MENGENAL PERGURUAN THIFAN PO KHAN

MAJALAH SENI BELADIRI "JURUS" EDISI NO.11 - TAHUN I - 8 NOPEMBER 1999

Inilah  jenis beladiri yang lekat dengan dakwah Islam. Meskipun berasal dari negeri yang bukan merupakan pusat penyebaran Islam, namun dalam perkembangannya tatacara latihan dan pemilihan materi pelajarannya sangat dipengaruhi oleh aqidah Islam. Konon, pernah di suatu masa orang yang boleh mempelajari beladiri ini harus hafal Al-Qur’an dan minimal seribu hadits.
Ulasan sejarah perguruan ini tak lepas dari kitab-kitab yang menjadi pedoman intern keluarga besar Thifan Pokhan, yaitu Kitab Zhodam yang berisi riwayat Thifan Pokhan, serta Kitab Thifan Pokhan sendiri yang memuat teknik-teknik bela diri.  Keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada tahun 1920 dari bahasa aslinya, Urwun.

Thifan adalah nama suatu daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah jajahan Cina yang kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang, yang artinya Negeri Baru. Namun kalau kita simak dalam atlas dunia, yang akan kita temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah Cina Utara.
Turkistan Barat dijajah oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang ke daerah ini, beberapa suku asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati telah memiliki sejenis ilmu bela diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang dinamakan “kagrul” yang dipadukan dengan pengaturan napas Kampa.

Dakwah Islam mulai disebarkan di Turkistan sekitar dua abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam: “Maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadan tanah Cina arah utara itu masuk Islam. Lalu ilmu pembelaaan diri masa mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam alam Islam, tetapi ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan kebudhaannya seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatup kedua belah tangan, lambang-lambang dan segala istilah.” (ZHODAM, Telif Syiharani, halaman 9).

Menurut M. Rafiq Khan dalam bukunya “Islam di Tiongkok”, orang muslim pertama yang datang ke Tiongkok terjadi pada jaman pemerintahan Tai Tsung (627-650 Masehi), seorang kaisar kedua dari Dinasti T’ang. Dituliskan pula bahwa selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2 dari Dinasti Tsung tahun 960-1270 Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra Khan beserta pasukannya, lalu menduduki Sin Kiang.

Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi antara dakwah Islam dengan tumbuhnya berbagai ma cam beladiri di kawasan Tiongkok sehingga terjadi pula Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa Urwun yang merupakan bahasa asalnya, Thifan Pokhan berarti “Kepalan Tangan Bangsawan Thifan”.  Beladiri ini mempunyai riwayat tersendiri yang khas sebagaimana diceritakan dalam Kitab yang bernama Zhodam.

BAGAN ASAL USUL THIFAN PO KHAN
Bagan Asal-usul Thifan
Bagan di atas dapat diuraikan lagi secara lebih rinci. Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang disebut Kagrul bercampur Kumfu Cina Purba.

Dulu, adalah seorang pendeta Budha bernama Ponitorm/Tamo Sozhui/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan.  Dia menyebarkan ajarannya.  Dalam pengembaraannya sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah oleh Raja Wu.

Karena terkena fitnah ia melarikan diri dan sampai di Bukit Kao.  Di sana ia merenung selama 9 tahun.  Menyadari murid-muridnya sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia atau penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama Budha, maka ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti tersebut di atas.  

Campuran Kumfu Cina Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang diatur dengan jalan pernapasan Yoga Dahtayana membentukk Shourim Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara.  Pengkajian beladiri ini disusun dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam Kitab Hzen Souzen. Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri lain seperti Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain yang masih satu sumber.

Aliran Shourim terus berkembang ke arah utara Cina dan memasuki daerah orang Lama (Tibet) & orang Wigu (Turki). Di sana aliran Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang.  Setiap cabang pun berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut.  Pecahnya aliran ini disebabkan Dinasti yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.
Tersebutlah seorang bangsawan bernama Jenan dari Suku Tayli yang pandai dalam ilmu syara dan terkenal sebagai ahund (ustad atau guru) muda.  Jenan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu dan ia pun berguru pada pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu.  Bersama para pendekar Muslim lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, Silat Kitan Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan. Dari Shurul Khan inilah terbentuk sembilan aliran seperti yang tersebut pada bagan.

Aliran-aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan lalu dipilah, diteliti dan dikaji dari segi kesehatan serta dibersihkan dari segala macam bentuk syirik dan khurafat.  Hasilnya menjadi cikal bakal munculnya Thifan.  Pada masa itu pengaruh Islam sudah masuk ke dalam beladiri ini.

JURUS DAN GERAKAN THIFAN POKHAN
  1. Jurus-jurus persiapan : sepak tinju suku Wigu
  2. Tingkat dasar : gerakan campuran pelbagai aliran-aliran gerakan binatang dari cerita Pendekar Namsuit.
  3. Jurus-jurus Turaiyt : Ilmu perkelahian pendekar Mogul, Nana Fan
  4. Jurus-jurus Bergulat : Gerakan orang Turki, Tatar, Monsyu, Saldsyuk dan Kay Suku Pantai
  5. Langkah (Tusyug) : Gerakan sebelas suku di daerah Thifan yaitu suku-suku Selatan di Cina
  6. Khimo : Siasat suku Kittan, Tayli, Shourim, dan Hayawan.
  7. Jurus-jurus Konlut : Gerakan unggas berkelahi, bertahan dan lain-lain
  8. Fuen Lion : pelbagai jenis binatang cengkrik, ular, kelelawar, dan lain-lain
  9. Tawgi Kotlu : gerakan binatang, pembelaan diri Tatar, Saldsyuk, Cina dan pelbagai jenis Kungfu Purba Tezi dan Szanding
  10. Badur : Diambil dari Aliran Tayakan, Suku Mutang, Binatang Laut, Bentuk Bunga, Lilin Selendang dari Tayli, Gerakan Suku Kitan, Mongol, Doghan dan Cina.
Seluruh gerakan itu diubah untuk melengkapi Shurul Khan. Selain ilmu tersebut di atas dalam materi pelajaran beladiri ini juga diajarkan ilmu Awasin Al Kay dari Arab, tusuk jarum dari Cina, tusuk saraf dari Persia, dan lain-lain. Juga permainan senjata dari Toya, Shourim, Kungfu Purba, permainan pedang Kurdi, permainan panah Mongol, permainan senjata Keway dari Anak Suku Wigu, serta ilmu Senzho yang merupakan gubahan berbagai suku. Karena itu Shurul Khan Thifan Pokhan termasuk aliran yang lengkap, karena segala aliran ada di dalamnya.

Inti materi latihan Thifan Pokhan dibagi menjadi enam bagian, yaitu :
1.    Sentai (senam)
Senam merupakan latihan dasar yang penting karena mendukung jurus-jurus lain yang diajarkan kemudian. Senam tersebut meliputi : senam kepala (leher), bahu, tangan, jari, perut, pinggang (perut), dan kaki. Ketujuh komponen tubuh inilah yang mendukung seseorang dalam melakukan gerakan serangan maupun belaan.


2.    Tawe (jurus), dibagi menjadi
a.    Teknik jurus : tangan kosong (teknik kepalan dan tangan terbuka yang terkumpul dalam 
       2028 jurus), serta permainan senjata (sekitar 20 jenis yang terkumpul dalam 5028 jurus)

b.    Teknik penggunaan jurus. Semua anggota badan bisa dijadikan senjata seperti kepala, 
       sikut, tangan, lutut, telapak kaki, dan sebagainya. Tangkisan bisa dilakukan dengan tangan 
       dan kaki, sedangkan teknik serangan dibagi menjadi 5 macam:
  1. menyerang dengan teknik merapat
  2. memanfaatkan tenaga lawan
  3. mengimbangi tenaga lawan
  4. menggunakan jarak/jangkauan
  5. menggunakan teknik bertubi - tubi

3.    Tusyug (langkah)
Ada kira-kira 164 cara melangkah yang dibagi menjadi 5 cara, yaitu :
  1. Geser
  2. patah
  3. lompat
  4. putar
  5. pilin
4.    Sikla (pasangan)

5.    Khimo (tipuan) dibagi menjadi 5 jenis
  1. Khimo langkah
  2. Sikla khimo
  3. Khimo yang berbentuk jurus
  4. Khimo tangkisan
  5. Khimo senjata
  6. Teknik pernapasan binatang buas

Ada 12 tingkat jenjang latihan yang berlaku di Thifan Pokhan setiap tingkat memakan waktu sekitar satu tahun.  Namun ada juga program khusus, tergantung pada kemajuan murid. Pada program ini waktu bisa lebih dipersingkat.

Salah satu ciri khas bela diri Thifan adalah teknik pembelaan diri yang selalu membiarkan lawan terlebih dahulu menyerang. Dengan demikian  gerakan lawan dapat diamati, apakah mematikan atau tidak. Kemudian teknik yang digunakan lawan tersebut digunakan untuk balik menyerangnya.

Untuk mencapai tahap kemampuan seperti tersebut ada dua hal pokok yang harus dimiliki, yaitu ketenangan dan kelincahan.  Ketenangan dapat dicapai jika dua unsur pokok dalam diri manusia dapat dipadukan dengan selaras, yaitu Unsur Jasadiah yang terlatih dengan baik dan Unsur Ruhiyah yang terbina dalam pemahaman aqidah yang benar (shohih). Kelincahan yang didapat dalam jurus-jurus Thifan secara tertib, disiplin dengan target sesuai dengan jenjang tingkatnya.

Kaedah-kaedah yang terdapat dalam Kitab Thifan Pokhan harus dilaksanakan sebagaimana adanya. Artinya, tidak boleh menambah-nambah tanpa ilmu yang jelas karena dalam beladiri ktia bergerak menggunakan sistem otot, saraf, dan lain-lain. Jadi apabila salah bergerak, bukannya sehat yang didapat tetapi sebaliknya akan mengakibatkan sakit. Sebagai contoh, penyakit hernia dapat diakibatkan oleh latihan pernapasan yang salah.

KURIKULUM TAMID PEMULA (ANGGOTA BARU)
Rincian kurikulum tamid bisa dilihat pada proposal latihan atau bisa ditanyakan kepada pelatih setempat !!


TRADISI LANAH SHURUL KHAN THIFAN POKHAN
Tradisi yang diajarkan di lanah-lanah atau lembaga-lembaga pesantren dengan doktrin Thifan, di antaranya adalah :
  1. Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada takhayul, khurafat dan tidak berbuat bid’ah dalam syara
  2. Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran)
  3. Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu
  4. Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok)
  5. Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara
Adanya doktrin ini disebabkan karena pada hampir semua bela diri terdapat paham agama/isme tertentu yang muncul dari adat/kepercayaan. Beladiri ini adalah beladiri khas muslim yang diwakafkan untuk umat Islam yang mengikuti Al-Quran dan Sunnah.

PERKEMBANGAN DI INDONESIA
Pada masa Sultan Malik Muzafar Syah dari Kerajaan Lamuri yang hidup sekitar abad ke-16 didatangkan pelatih-pelatih beladiri dari Turki Timur yang kemudian disebarkan ke kalangan para bangsawan di Sumatra (dapat dilihat dalam Kisah Raja-raja Lamuri/Raja Pasai).

Pada sekitar abad ke-18 Tuanku Rao dan kawan-kawan mengembangkan ilmu ini ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang hingga ke Sumatera bagian Timur dan Riau yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Kemudian, sekitar tahun 1900-an ilmu ini dibawa oleh Tuanku Haji (Hang) Uding yang menyebarkannya ke daerah Betawi dan sekitarnya. Beladiri khas ini pun disebarkan oleh orang-orang Tartar ke pulau Jawa sambil berdagang kain, sedangkan di luar pulau Jawa lainnya ilmu beladiri disebarkan oleh pendekar-pendekar lainnya sampai ke Malaysia dan Thailand (Patani).

Masuknya Thifan ke pulau Jawa ada yang langsung atau tidak langsung. Khususnya di Jawa Barat.
Thifan Po Khan yang untuk khusus untuk pria (Thifan Tsufuk) dan yang khusus untuk wanita (Thifan Puteri Gading) dikembangkan atas bimbingan Ustadz Ad Marzdedeq. Aliran ini muncul karena ketika Thifan masuk ke Indonesia sistem pengajarannya belum baku sebab penyebarannya masih terbatas. Nama "tsufuk diambil dari nama sejenis hewan yang sedang mengintai lawan. Jenis hewan yang mempunyai berat sekitar 9 kg ini hanya hidup di Siberia.
Tsufuk biasanya dipakai untuk bahan topi di daerah dingin

Di Indonesia beladiri ini tidak berafiliasi dengan beladiri lain yang terdaftar di KONI. Dalam tiga kali pertandingan ekshibisi intern, Thifan Po Khan menggunakan peraturan sendiri. Sebenarnya KONI telah menganjurkan agar Thifan berafiliasi dengan salah satu beladiri seperti wushu atau pencak silat.

Karena besarnya animo kaum muslimin untuk mempelajari beladiri Thifan Pokhan, maka aliran Tsufuk membuat sistem pengajaran yang baku, tanpa meninggalkan kaedah-kaedah Thifan Pokhan yang benar. Di Indonesia beladiri ini tidak berafiliasi dengan beladiri lain yang terdaftar di KONI. Dalam tiga kali pertandingan eksebisi intern, Thifan Pokhan menggunakan peraturan sendiri. Sebenarnya KONI telah menganjurkan agar Thifan berafiliasi dengan salah satu beladiri seperti wushu atau pencak silat. Namun karena alasan tekniknya berbeda dengan beladiri lain dan melihat sejarahnya yang cukup tua, maka hingga sekarang Thifan Pokhan masih berdiri sendiri. Untuk murid perempuan, berbeda dengan olahraga beladiri lainnya, dalam latihan kelompok perempuan senantiasa terpisah dengan kelompok laki-laki (waktu latihan berbeda), bahkan diusahakan pelatihnya pun dari yang sejenis. Gerakan-gerakan dan jurus-jurus antar dua kelompok ini juga berbeda, untuk kalangan perempuan lebih halus, disesuaikan dengan fitrah kewanitaannya.

Artikel menarik lainnya:


Keyword untuk masuk website ini:


1 komentar:

Ebook mengatakan...

Setau saya ada 12 aliran, bukannya 9 seperti yg dikemukakan diatas

Poskan Komentar